5 Film Perihal Pelanggaran Ham Paling Menginspirasi
5 Film Tentang Pelanggaran HAM Paling Menginspirasi - Setiap tanggal 10 Desember, dunia Internasional memperingati Hari HAM Sedunia. Tanggal tersebut dideklarasikan oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Berbicara mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia, banyak pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh dunia yang menginspirasi orang-orang untuk menciptakan film perihal kisah usaha mereka.
Berikut adalah 5 Film Tentang Pelanggaran HAM Paling Menginspirasi :
1. Jamila dan sang Presiden (Jamila and the President)
adalah sebuah film drama dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2009 yang disutradarai oleh Ratna Sarumpaet dan dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Christine Hakim. Film ini menceritakan kisah hidup seorang pekerja seks komersial (PSK) yang dipenjara alasannya membunuh seorang menteri.
Film ini disesuaikan dari sebuah karya drama berjudul Pelacur dan sang Presiden, yang ditulis Ratna sehabis mendapatkan sebuah hibah dari UNICEF untuk menelaah perdagangan anak di Indonesia dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan dilema tersebut.
2. Jagal (Act of Killing)
adalah film dokumenter karya sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer. Film dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Dalam Jagal, para pembunuh bercerita perihal pembunuhan yang mereka lakukan, dan cara yang mereka gunakan untuk membunuh.
Tidak ibarat para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan bagi jutaan anggota PP. Jagal ialah sebuah perjalanan menembus ingatan dan imajinasi para pelaku pembunuhan dan memberikan pengamatan mendalam dari dalam pikiran para pembunuh massal.
Jagal ialah sebuah mimpi jelek kebudayaan banal yang tumbuh di sekitar impunitas ketika seorang pembunuh sanggup berkelakar perihal kejahatan terhadap kemanusiaan di program bincang-bincang televisi, dan merayakan peristiwa moral dengan kesantaian dan keanggunan tap-dance. The Act of Killing disambut kebanggaan di seluruh dunia. Situs agregator ulasan Rotten Tomatoes menunjukkan evaluasi nyata 97% dengan nilai rata-rata 8.8/10 menurut 104 ulasan. The Village Voice menyebut film ini "mahakarya".
3. Senyap (The Look of Silence)
adalah film dokumenter kedua karya sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer dengan tema sentral pembantaian massal 1965 sehabis film Jagal. Jika film Jagal menyoroti sisi pelaku pembantaian, maka film kedua ini lebih menyoroti sisi penyintas dan keluarga korban. Senyap memfilmkan perjalanan satu keluarga penyintas untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya.
Adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan lalu mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya. sesuatu yang tak terbayangkan ketika para pembunuh masih berkuasa.
4. Life is Beautiful
Film ini menceritakan perjalanan seorang laki-laki berjulukan Guido yang berkelana ke Italia. Di sana ia berkenalan dengan seorang guru sekolah yang manis berjulukan Dora. Mereka balasannya menikah dan memiliki anak berjulukan Joshua. Keadaan mulai berubah ketika Nazi mulai berkuasa di Italia. Joshua, Guido, dan Dora ditangkap mereka keturunan Yahudi. Mereka semua lalu diangkut dan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi dengan kereta.
Di kamp tersebut, laki-laki dan perempuan dipisahkan sehingga menciptakan keluarga Guido menjadi terpisah. Mulai ketika inilah, Guido berusaha untuk melindungi, bukan hanya jiwa tapi juga mental, anaknya. Ia bersikap di depan anaknya seperti semuanya hanyalah sebuah permainan untuk mendapatkan sebuah tank dan berusaha meyakinkan anaknya dengan segala cara yang ia bisa. Pada simpulan cerita, ketika Nazi mulai terdesak dan pasukan sekutu mendekati kamp, Guido meninggal ditembak oleh penjaga kamp alasannya dianggap kabur dalam usahanya untuk mencari Dora.
Joshua selamat alasannya ia disuruh oleh ayahnya bersembunyi di sebuah kotak kayu dan ia balasannya sanggup bertemu kembali dengan Dora. Film ini memenangkan aneka macam penghargaan dan nominasi di aneka macam ajang penghargaan film di seluruh dunia. Di ajang Academy Award, film ini memenangkan 3 kategori, yaitu Best Actor, Best Foreign Language Film, dan Best Original Score, dan dinominasikan untuk 4 kategori lainnya, termasuk Best Director.
5. Mandela : Long Walk to Freedom
Mandela: Long Walk to Freedom menyoroti penderitaan Mandela baik secara jiwa dan raga atau fisik secara lebih vulgar. Kekerasan yang dialami Mandela semenjak kecil ketika hidup di tempat kumuh, lalu ditangkap dan menghabiskan masa produktifnya dalam penjara sampai balasannya menjadi Presiden Afsel disusun rapi oleh sutradara Justin Chadwick.
Sosok Idris Elba, pemain film Mandela, yang hitam legam, berotot, dan ditampilkan lusuh menggambarkan penderitaan Mandela yang sanggup bertahan dalam menghadapi kerasnya rezim apartheid.
Nah, itulah 5 Film Tentang Pelanggaran HAM Paling Menginspirasi. Sampai ketika ini masih banyak kisah-kisah pelanggaran HAM yang tidak terkuak atau belum tuntas. Mari bergerak dan jangan hanya membisu melihat pelanggaran-pelanggaran HAM tersebut.
Sumber : liputan6.com




